BS AdvisoryBS Advisory
InsightsEvents
ID|ENHubungi Kami
BS Advisory
Bhinneka Sentra Advisory — Registered Tax Consultant & Tax Attorney. Unit bisnis Ortax Solutions Center.
Layanan
Tax & Accounting
Transfer Pricing
Global Minimum Tax
Tax Manual & SOP
Tax Control Framework
Payroll & PPh 21
In House Training
Perusahaan
Tentang BSA
Tim Kami
Karir
Events
Resources
Insights
Kantor
Askrida Tower Lt. 1–2
Jl. Pramuka Kav. 151, Jakarta Timur 13210
(021) 85210980
+62 811 1992 0088 (WhatsApp)
solutions@ortax.org
Jadwalkan Konsultasi
Ortax Ecosystem
OrtaxPajakExpressPajak101TaxBase X
© 2026 Ortax Solutions Center · All Rights Reserved
Beranda/Insights/Berita Nasional

Jaga Stabilitas APBN, Kemenkeu Intensifkan Stress Test dan Perluas Sumber Pembiayaan Non-USD

Daffa Yasril Nurmansyah04 March 2026
Ukuran teks
0/0

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga stabilitas APBN tetap terjaga di tengah eskalasi geopolitik global yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Hal tersebut diungkapkan dalam diskusi CNN Indonesia Economic Forum 2026 yang berlangsung di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan (Senin, 02/03/2026).
Wakil Menteri Keuangan RI, Juda Agung memaparkan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk penutupan Selat Hormuz dan eskalasi di Laut Merah, telah memicu kekhawatiran terhadap fluktuasi harga minyak dunia serta dampak turunannya yang berimbas pada stabilitas makroekonomi. Untuk memitigasi risiko dinamika geopolitik, saat ini Kemenkeu terus mengintensifkan simulasi uji ketahanan (stress test) terhadap indikator makroekonomi serta melakukan diversifikasi sumber pendanaan untuk mengurangi ketergantungan pada Dolar Amerika Serikat (AS).
Juda mengungkapkan bahwa Kemenkeu secara rutin dan berkala melakukan stress test terhadap berbagai skenario global yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memicu tekanan di pasar keuangan. Berdasarkan hasil simulasi terburuk, pergerakan indikator makro dapat memberikan dampak signifikan pada stabilitas APBN dan beban negara.
Wamenkeu menjelaskan bahwa setiap kenaikan USD1 pada Indonesian Crude Price (ICP) berpotensi menambah defisit anggaran sekitar Rp6,8 triliun. Lebih lanjut, pelemahan nilai tukar sebesar Rp100 terhadap dolar AS diproyeksikan akan berdampak sekitar Rp0,8 triliun terhadap pelebaran defisit, sementara kenaikan yield 0,1 persen berpotensi menambah beban fiskal sekitar Rp1,9 triliun.
Sebagai langkah menjaga kestabilan ekonomi, pemerintah juga turut aktif melakukan diversifikasi sumber pendanaan guna mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Langkah yang telah dilakukan antara lain dengan menerbitkan global bonds senilai USD4,5 miliar dalam mata uang Euro dan Renminbi (RMB) dengan tingkat yield yang dinilai kompetitif di pasar global.
“Minggu lalu, pemerintah telah menerbitkan global bonds senilai ekuivalen USD4,5 miliar dalam denominasi Euro dan RMB. Tingkat imbal hasil (yield) dari penerbitan tersebut tergolong kompetitif, dengan yield instrumen RMB berada pada kisaran 2–3 persen, sedangkan untuk denominasi Euro berada di level 4–5 persen,” tutup Juda.

TopikPajakBerita Pajakapbn
Penulis
Daffa Yasril Nurmansyah
Diskusikan kasus Anda

Insight lainnya

Semua →
  • Pemerintah Kabupaten Bekasi Lakukan Penertiban Terhadap 61 Tunggakan Reklame11 September 2026
  • Uji Pasal Kompetensi Kuasa Pajak, MK Minta Pemohon Perjelas Objek Keberatan11 September 2026
  • Izin Praktik Keluar, Konsultan Pajak Punya Waktu 30 Hari untuk Daftar Asosiasi10 September 2026
  • Panduan Registrasi Wajib Pajak GloBe Melalui Coretax DJP10 September 2026
Layanan Kami
  • 01Tax & Accounting Services
  • 02Transfer Pricing Services
  • 03Global Minimum Tax (GMT) Services
  • 04Tax Manual & SOP Services
  • 05Tax Control Framework (TCF) Services
  • 06Payroll & PPh 21 Services
  • 07In House Training

Hubungi Kami

Untuk mengelaborasi Kebutuhan Pajak Anda dan mendapatkan gambaran ruang lingkup silakan berdiskusi atau menjadwalkan pertemuan dengan tim konsultan kami

Jadwalkan KonsultasiPilih waktu pertemuanWhatsApp+62 811 1992 0088Emailsolutions@ortax.org