BS AdvisoryBS Advisory
InsightsEvents
ID|ENHubungi Kami
BS Advisory
Bhinneka Sentra Advisory — Registered Tax Consultant & Tax Attorney. Unit bisnis Ortax Solutions Center.
Layanan
Tax & Accounting
Transfer Pricing
Global Minimum Tax
Tax Manual & SOP
Tax Control Framework
Payroll & PPh 21
In House Training
Perusahaan
Tentang BSA
Tim Kami
Karir
Events
Resources
Insights
Kantor
Askrida Tower Lt. 1–2
Jl. Pramuka Kav. 151, Jakarta Timur 13210
(021) 85210980
+62 811 1992 0088 (WhatsApp)
solutions@ortax.org
Jadwalkan Konsultasi
Ortax Ecosystem
OrtaxPajakExpressPajak101TaxBase X
© 2026 Ortax Solutions Center · All Rights Reserved
Beranda/Insights/Tax Learning

Siapa yang Dimaksud dengan Pengusaha Kena Pajak?

Dewa Suartama23 June 2023
Ukuran teks
0/0
Definisi penjelasan pengusaha kena pajak. Sumber gambar: freepik

Pemungutan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) di Indonesia dilakukan dengan mekanisme withholding tax. Artinya, administrasi PPN, mulai dari penghitungan, penyetoran, dan pelaporan dilakukan oleh pihak yang telah ditunjuk untuk melakukan pemungutan PPN. Dalam konteks PPN, pihak yang memungut pajak adalah penjual yang merupakan Pengusaha Kena Pajak (PKP). Namun, tidak semua penjual merupakan PKP. Terdapat beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan sebelum menjadi PKP.

Definisi Pengusaha Kena Pajak

Yang dimaksud sebagai PKP adalah pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan atau penyerahan JKP yang dikenakan pajak berdasarkan UU PPN. Pengusaha secara umum menurut UU PPN adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apa pun yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang, mengekspor barang melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar daerah pabean, melakukan usaha jasa termasuk mengekspor jasa, atau memanfaatkan jasa dari luar Daerah Pabean.

Dengan demikian, yang membedakan pengusaha dengan PKP adalah barang atau jasa yang diserahkan. Pengusaha dapat disebut sebagai PKP apabila yang diserahkan adalah BKP atau JKP. Pengusaha yang melakukan penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP di dalam Daerah Pabean dan/atau melakukan ekspor BKP, JKP, dan/atau ekspor BKP Tidak Berwujud diwajibkan melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP.

Pengusaha Kecil

Meskipun telah melakukan penyerahan BKP/JKP, apabila pengusaha termasuk kategori pengusaha kecil, maka tidak wajib dikukuhkan sebagai PKP. Dalam Pasal 1 ayat (1) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 197 Tahun 2013, yang dimaksud pengusaha kecil adalah pengusaha yang selama satu tahun buku melakukan penyerahan BKP dan/atau JKP dengan jumlah peredaran bruto dan/atau penerimaan bruto tidak lebih dari Rp4,8 miliar. Peredaran bruto dan/atau penerimaan bruto sebagaimana dimaksud adalah jumlah keseluruhan penyerahan BKP dan/atau JKP yang dilakukan oleh pengusaha dalam rangka kegiatan usahanya. Berikut adalah batasan pengusaha kecil yang pernah berlaku:

Dasar HukumBatas Peredaran BrutoMulai Berlaku
967/KMK.04/1983Rp24.000.0001 Juli 1984
430/KMK.04/1984Rp60.0000.000* / Rp30.000.000**1 Juli 1984
1288/KMK04/1991Rp120.000.000* / Rp60.000.000**1 April 1989
648/KMK.04/1994Rp240.000.000* / Rp120.000.000**1 Januari 1995
552/KMK.04/2000Rp360.000.000* / Rp180.000.000**1 Januari 2001
571/KMK.03/2003Rp600.000.0001 Januari 2004
197/PMK.03/2013Rp4.8000.000.0001 Januari 2014
*Jumlah penyerahan BKP, **Jumlah penyerahan JKP

Pengusaha kecil diperkenankan untuk memilih dikukuhkan menjadi PKP. Apabila pengusaha kecil memilih menjadi PKP, UU PPN juga berlaku sepenuhnya bagi pengusaha kecil tersebut. Jika melampaui batasan peredaran bruto Rp4,8 miliar sampai dengan suatu bulan dalam satu tahun buku, pengusaha kecil wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan menjadi PKP paling lama akhir bulan berikutnya setelah bulan saat jumlah peredaran bruto dan/atau penerimaan brutonya melebihi batasan tersebut.

Sebagai contoh, Bapak Andi terdaftar di KPP Jakarta Kebayoran Baru Dua memiliki toko onderdil mobil di Pusat Onderdil Fatmawati. Omzet bulan Januari sampai dengan April 2022 mencapai Rp4,5 miliar. Omzet bulan Mei 2022 ternyata mencapai Rp400 juta. Dengan demikian, batasan Pengusaha Kecil telah terlampaui pada bulan Mei 2022, sehingga Bapak Andi harus segera melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP kepada KPP Jakarta Kebayoran Baru Dua selambat-lambatnya 30 Juni 2022.

Hak dan Kewajiban PKP

Pengusaha yang melakukan penyerahan BKP dan atau penyerahan JKP di dalam Daerah Pabean dan/atau melakukan ekspor BKP Berwujud, ekspor JKP, dan/atau ekspor BKP Tidak Berwujud diwajibkan:

  1. Melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP
  2. Memungut pajak yang terutang
  3. Menyetorkan PPN yang masih harus dibayar dalam hal Pajak Keluaran lebih besar dari Pajak Masukan yang dapat dikreditkan, serta menyetorkan PPnBM yang terutang
  4. Melaporkan penghitungan pajak dalam SPT Masa PPN

Kewajiban untuk memungut, menyetorkan dan melaporkan PPN dan PPnBM yang terhutang dimulai sejak saat pengukuhan sebagai PKP.

Hak yang diperoleh jika telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak adalah pertama, pengkreditan Pajak Masukan atas perolehan BKP/JKP. Pajak Masukan adalah PPN yang sudah dibayar oleh PKP karena memperoleh atau membeli BKP dan/atau JKP. Kemudian Pajak Masukan tersebut diperhitungkan sebagai kredit atau pengurang pajak keluaran apabila PKP menjual barang. Pajak keluaran adalah PPN yang dipungut oleh PKP saat melakukan penyerahan BKP dan/atau JKP.

Kedua, PKP berhak melakukan restitusi atau kompensasi atas kelebihan PPN. Apabila Pajak Masukan lebih besar daripada Pajak Keluaran, maka PKP dapat mengajukan restitusi atau kompensasi. Restitusi adalah permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak, sedangkan kompensasi adalah mekanisme memperhitungkan kelebihan Pajak Masukan di masa pajak sekarang untuk masa pajak berikutnya.

Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak

Pengukuhan PKP dapat dilakukan dengan dua mekanisme, yaitu secara jabatan dan permohonan. Pengukuhan secara jabatan dilakukan langsung oleh Direktur Jenderal Pajak apabila wajib pajak dianggap telah memenuhi syarat sebagai PKP.

Wajib pajak yang telah memenuhi syarat ataupun pengusaha kecil yang memilih untuk menjadi PKP dapat mengajukan permohonan pengukuhan PKP. Setelah dikukuhkan, PKP juga perlu melakukan aktivasi akun PKP agar dapat melaksanakan kewajiban adminsitrasi PPN.

Pencabutan Status PKP

Pencabutan status PKP diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147/PMK.03/2017. Berdasarkan peraturan tersebut, pencabutan PKP dapat dilakukan dengan dua mekanisme, yakni secara jabatan atau dengan permohonan. PKP yang tidak lagi memenuhi syarat dapat dicabut statusnya secara jabatan. setelah dilakukan penelitian administrasi atau pemeriksaan. Artikel berikut membahas pemeriksaan terkait pencabutan status PKP.

Jika melalui permohonan, keputusan pencabutan PKP diterbitkan dalam jangka waktu 6 bulan. Apabila melewati jangka waktu tersebut, permohonan dianggap diterima dan keputusan pencabutan wajib diterbitkan paling lama 1 bulan.

Topikppnpkpkonsep-ppn
Penulis
Dewa Suartama
Diskusikan kasus Anda

Insight lainnya

Semua →
  • Pemerintah Kabupaten Bekasi Lakukan Penertiban Terhadap 61 Tunggakan Reklame11 September 2026
  • Uji Pasal Kompetensi Kuasa Pajak, MK Minta Pemohon Perjelas Objek Keberatan11 September 2026
  • Izin Praktik Keluar, Konsultan Pajak Punya Waktu 30 Hari untuk Daftar Asosiasi10 September 2026
  • Panduan Registrasi Wajib Pajak GloBe Melalui Coretax DJP10 September 2026
Layanan Kami
  • 01Tax & Accounting Services
  • 02Transfer Pricing Services
  • 03Global Minimum Tax (GMT) Services
  • 04Tax Manual & SOP Services
  • 05Tax Control Framework (TCF) Services
  • 06Payroll & PPh 21 Services
  • 07In House Training

Hubungi Kami

Untuk mengelaborasi Kebutuhan Pajak Anda dan mendapatkan gambaran ruang lingkup silakan berdiskusi atau menjadwalkan pertemuan dengan tim konsultan kami

Jadwalkan KonsultasiPilih waktu pertemuanWhatsApp+62 811 1992 0088Emailsolutions@ortax.org